Mengimani Nama dan Sifat Allah

Kahutify.com


بسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Materi 5 :
Mengimani Nama dan Sifat Allah

Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah ﷻ artinya meyakini nama-nama Allah yang ada di dalam al-Qur’an dan sunnah, mengerti artinya dan menetapkan sifat-sifat yang dikandungnya. Meyakini pula seluruh sifat yang Allah nyatakan dalam al-Qur’an dan sunnah di luar kandungan nama-nama-Nya.

Kita tidak bisa mengetahui nama-nama Allah ﷻ secara keseluruhan. Allah memiliki banyak nama yang tidak kita ketahui batas jumlahnya. Kita hanya bisa mengetahui nama-nama Allah sebatas yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Selain yang ada di dalam al-Qur’an dan sunnah, Allah pun memiliki nama-nama yang disimpan di ilmu ghaib-Nya, tidak diberitahukan kepada makhluk-Nya.

Nama-nama Allah ﷻ mengandung sifat-sifat-Nya. Mengimani nama-nama Allah  harus diiringi oleh iman kepada sifat-sifat yang dikandung oleh nama-Nya.

Menolak sifat yang dikandung oleh suatu nama Allah adalah kesesatan yang besar.
Contoh: menerima nama Ar-Rahim sebagai nama Allah , tetapi menolak sifat rahmat yang dikandung oleh nama tersebut.

Allah  mengajarkan kita tentang nama-nama-Nya dengan kata-kata yang jelas. Melalui ilmu bahasa, kita memahami arti sifat-sifat Allah yang dikandung kata-kata tersebut.

Banyak kata dari sifat-sifat Allah yang menyamai kata dari sifat-sifat manusia, misalnya Allah melihat dan mendengar, manusia pun melihat dan mendengar. Akan tetapi hakikat (bobot, bentuk dan realita) dari keduanya sangat berbeda, tidak mempunyai kesamaan atau keserupaan kecuali dalam kata dan arti. Kita tidak mengetahui hakikat sifat-sifat Allah , kita tidak mengetahui bagaimana Allah  mendengar atau melihat, yang pasti semua sifat-sifat Allah  sempurna tak terbataskan, mulia, tinggi dan agung tak terhingga. Semua yang terlintas di benak manusia tentang hakikat (bobot, bentuk dan realita) sifat-sifat-Nya, tidaklah sama dengan hakikat yang sebenarnya.

Tidak ada satu zat pun yang menyerupai Allah , walaupun zat itu mempunyai kata sifat yang sama dengan kata sifat Allah  seperti mendengar atau melihat atau berbicara, karena hakikat suatu sifat berbeda menurut pemiliknya masing-masing.

Contoh: kata “kepala” untuk dua pemilik yang berbeda, mempunyai hakikat yang berbeda pula. Misalnya: kepala sekolah dan kepala macan. Kata keduanya adalah k-e-p-a-l-a, dalam bahasa pun memiliki arti yang sama, yaitu sesuatu yang diikuti oleh bagian lainnya, tetapi hakikat keduanya sangat berbeda.


Sumber:
Kuliah Studi Islam eLSSI

Posting Komentar

0 Komentar