Keutamaan Puasa Arafah

 

Kahutify.com

Puasa sunah adalah amalan yang paling utama diantara amalan sunnah-sunnah yang lainnya. Hal ini karena didalam puasa sunnah kecil kemungkinan untuk disusupi riya’ yang bisa merusak pahala suatu ibadah. Selain itu puasa juga memiliki keutamaan yang agung, dimana pahala orang yang berpuasa akan langsung diberikan oleh Allah Azza Wa Jalla dengan pahala yang tidak terbatas. Itu semua dikarenakan puasa adalah rahasia antara Allah dan hambanya. Tidak ada yang mengetahui secara pasti apakah orang tersebut berpuasa kecuali dirinya sendiri dan Allah Subhanahu Wa ta'ala semata.

Jika kita berbicara tentang bulan Dzulhijjah, maka terdapat berbagai amalan-amalan dan ibadah yang sangat dianjurkan, mulai dari puasa di 10 hari awal Dzulhijjah, ibadah haji, hingga berkurban.

Salah satu ibadah puasa yang memiliki fadhilah yang istimewa adalah Puasa Arafah. Puasa Arrafah termasuk kedalam puasa sunnah yang kerap dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wassalam beserta para sahabatnya. Puasa ini termasuk puasa sunah yang paling afdzol yang disepakati oleh para ulama, karena didalamnya terdapat pahala yang sangat besar. Ganjaran yang besar itu disebabkan karena puasa Arafah ini berada pada bulan yang mulia, yaitu Bulan Dzulhijjah sebagai salah satu syahrul haraam (Bulan Haram).

Syekhul Islam mengatakan; Hari-hari Dzulhijjah lebih afdzol dari sepuluh hari pada akhir ramadhan, dan malam sepuluh akhir ramadhan lebih baik dari sepuluh awal dzulhijjah. Itu dikarenakan di sepuluh awal dzulhijjah terdapat wukuf yang dilaksanakan di padang Arrafah dan sepuluh malam terakhir ramadhan lebih baik karena didalamnya ada malam lailatul qadar.

Lantas siapa saja yang dianjurkan untuk berpuasa arafah?

Puasa Arrafah sunah bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, sebagaimana diriwayatkan dari Abi Hurairah, (bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi wassalam melarang puasa Arafah bagi orang-orang yang sedang melakukan wukuf di Arrafah) dan para ulama diantaranya tiga Imam besar: Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad mengatakan puasa arafah makruh hukumnya bagi orang yang sedang melakukan wukuf di Arafah.

Adapun Pahala puasa Arrafah terdapat pada Hadits Shohih, dari Abi Qotadah Al-Ansyorii, ia berkata:
Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam ditanya tentang pahala puasa Arrafah, dan Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam bersabda:
"يكفرالسنة الماضية والباقي ة"
"Menghapus dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang."

Didalam Hadits istihbaab puasa Arrafah, yaitu hari sembilan pada bulan Dzulhijjah. Dikarenakan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu, adapun setahun setelah nya yaitu menghapus dosa-dosa yang akan datang hanya khusus untuk Nabi Shallallahu'alaihi wassalam.
Ulama mengatakan: makna hadits ini adalah Allah memberi taufiq kepada amalan-amalan sholih dan tidak terjerumus kedalam perbuatan dosa.


Adapun dosa yang dihapus para ulama berbeda pendapat, Jumhur ulama mengatakan: Bahwasanya dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil tidak menghapus dosa-dosa besar, dalil mereka karena puasa Arafah tidak lebih utama dibanding sholat lima waktu yang bisa menghapus dosa-dosa besar.


Adapun pendapat Imam Nawawi beliau mengatakan: Yang dimaksud dosa yang dihapus adalah dosa kecil, jika tidak ada dosa-dosa kecil maka diringankan dosa-dosa besar nya, jika tidak ada maka diangkat derajatnya.

Wallohu'alam.

Disusun oleh Ustadz Arif Vikiyanto
(Mahasiswa STIBA Ar-Rayyah, Sukabumi)

Referensi kitab :
Taudziihul Ahkaam Min Buluugil Maraam
Bab : Puasa sunnah dan apa-apa yang dilarangnya, Hal 825.


Posting Komentar

0 Komentar