Ringkasan Ibadah Kurban di Hari Raya Idul Adha

Kahutify.com

Pengertian

Ibadah Kurban adalah Penyembelihan hewan yang dilakukan dipagi hari setelah sholat idul adha untuk mendapatkan pahala dan ridho Allah Azza Wa Jalla dengan niat ikhlas.

Dalam literasi lain, ibadah kurban atau Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Idul Adha, atau disebut juga Hari Nahr (penyembelihan) yang jatuh pada hari ke 10 Dzulhijjah, merupakan hari besar nan afdhal. Puncak dari kesempurnaan haji, di mana seorang yang sempurna hajinya, maka Allah mengampuninya.

Secara singkat, berikut ini beberapa keutamaan Hari Nahr diantaranya :

1. Hari terbaik di sisi Allah

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Zaadul Ma’ad (1/54): “Hari terbaik di sisi Allah adalah Hari Nahr, di mana hari itu merupakan hari haji akbar, sebagaimana dalam Sunan Abu Daud (1765) bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasalam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah Hari Nahr” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

2. Hari Haji Akbar

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasalam berhenti di antara jumrah di Hari Nahr,dan beliau berkata, “Hari ini adalah hari Haji Akbar” (HR. Bukhori no. 1742).

3. Hari ‘Ied bagi umat Muslim

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasalam bersabda, “Hari Arafah, Hari Nahr, dan hari-hari tasyrik adalah hari ‘ied umat Muslim. Dan hari-hari itu adalah hari makan dan minum” (HR. At Tirmidzi (773) dishahihkan oleh Al Albani dalam Shohih At Tirmidzi).

Hukum Penyembelihan Hewan Kurban

Diantara dalil tentang ibadah kurban terdapat dalam Q.S. Al-Kautsar ayat 1-3.

QS Al-Kausar : 1
اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

QS Al-Kausar : 2
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

QS Al-Kausar : 3
اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Adapun hukum menyembelih hewan kurban ialah Sunnah Wajibah yaitu Sunnah yg mendekati wajib kepada mereka yang mampu.

Lantas jika belum mampu bagaimana?

Maka bisa kita mulai dengan niat yang kuat sembari berazzam bahwa kita ingin berkurban, kemudian diikhtiarkan.
Hal ini untuk mengindikasikan bahwa kita benar-benar memiliki niat untuk berkurban, meskipun secara finansial belum mampu, namun paling tidak kita bisa mendapatkan keutamaan dari niat tersebut.

Ibadah kurban, jika kita perhatikan hampir sama seperti halnya ibadah haji / umrah. Diantara kesamaan nya ialah Allah tidak memanggil yang mampu, tapi memampukan yang terpanggil. Semoga kita termasuk hamba-hamba nya yang terpanggil untuk menjalankan ibadah yang mulia ini, aamiin.

Keutamaan Ibadah Kurban

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahwa menyembelih kurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Senada dengan hal diatas, dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa tidak ada ibadah yang lebih Allah sukai dihari raya idul adha kecuali mengucurkan darah hewan kurban. Karena pada hari kiamat nanti tanduk, kuku-kukunya akan jadi saksi dan pahala.
Darah yang mengucur akan lebih cepat sampai kepada Allah sebelum darah tersebut jatuh ke permukaan bumi.

Secara sederhana dapat dipahami bahwa pahala dan nilai takwa yang akan didapatkan oleh orang yang berkurban, akan lebih cepat sampai kepada Allah, dibandingkan darah yang jatuh diatas permukaan tanah. Masya Allah, ini menggambarkan betapa agung dan mulianya ibadah ini.

Apalagi bagi orang-orang yang benar-benar menemui banyak halang rintang dalam berkurban, seperti memulai dengan menyisihkan sedikit demi sedikit pendapatan nya, kemudian dibelikan jenis hewan kurban, lalu dirawat dan dibesarkan hingga mencapai batas waktu yang telah ditentukan, maka balasan untuk orang tersebut akan sesuai dengan nilai kesukaran yang dihadapi.

Larangan bagi orang yang hendak berkurban

Orang yang hendak berkurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya (yaitu orang yang hendak kurban bukan hewan kurbannya).

Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim).

Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun, mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/376).

Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga untuk anggota keluarga shohibul qurban?

Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya.
Karena 2 alasan:
  • Dhahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau berkurban.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau menyuruh anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul Mumti’ 7/529).

Jenis Hewan Kurban

Hewan kurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al-An’aam (hewan ternak tertentu) yaitu unta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu.

Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma‘ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan ternak tertentu tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406).

Hukum-Hukum Seputar Ibadah Kurban

‌Jenis Hewan Kurban diilihat dari umurnya
  • ‌Domba Gimbal : 1 tahun‌
  • Kambing Jawa : 1 tahun lebih
  • Sapi, Kerbau, dan sejenisnya : 2 Tahun lebih
  • Unta : 4 tahun lebih
Diantara dalil, sebagaimana yang telah di sampaikan oleh penceramah, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam telah mengingatkan agar jangan menyembelih hewan kurban sebelum waktunya, kecuali jika memang tidak ada. Itupun dengan catatan sudah masuk syarat minimal.

‌Lalu bagaimana dengan jenis hewan betina? Apakah diperbolehkan?

‌Secara hukum, ibadah kurban tidak dibatasi oleh jenis kelamin, karena seperti yang telah dipaparkan tadi, yang diatur adalah umurnya dan jenis hewan kurbannya.

‌Kemudian jika jenis hewan kurban betina dan sedang mengandung, apakah dibolehkan? Apakah anak yang didalamnya halal? Dan apakah perlu disembelih dua kali?

Maka berdasarkan pendapat yang dipilih penceramah, umumnya hal ini dibolehkan, anak yang didalamnya pun sudah halal, serta tidak perlu menyembelih ulang, sehingga cukup menyembelih sekali pada induknya.

‌Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Terkait Kondisi Hewan Kurban

1‌. Tidak buta dan tidak cacat matanya
2‌. Tidak cacat kakinya, seperti pincang dan lumpuh
3.Tanduknya tidak patah sampai ke pokoknya. Jika patah karena untuk melindungi keselamatan si hewan, maka insya Allah tidak mengapa.
4‌. Kurus
5. Sakit

‌Jika hewan kurban nya tidak sehat seperti kondisi diatas, maka hewan kurban tersebut tidaklah sah.

‌Seperti apa ciri kambing yang dianjurkan? Apakah Rasulullah pernah memberitahukan nya?

‌Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa diantara ciri kambing yang dianjurkan untuk dijadikan hewan kurban adalah jenis domba gibas yang bertanduk, matanya hitam, semua kakinya hitam, bagian belakangnya hitam. Sehingga ada warna hitam dan putihnya. Hal ini penceramah nukilnberdasarkan hadits dari ibunda Aisyah. Radhiyallahu Anha.

Adapun secara umum, hewan kurban yang paling disukai adalah yang paling gemuk fan sempurna.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “…barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32).

Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk.

Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari secara mu’allaq namun secara tegas dan dimaushulkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Mustakhraj, sanadnya hasan).

Waktu penyembelihan hewan kurban

‌Setelah sholat idul adha sampai berakhirnya hari tasyrik, 11, 12, 13.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih (kurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Tidak ada perbedaan waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan. Namun menurut Syaikh Al Utsaimin, melakukan penyembelihan di waktu siang itu lebih baik. (Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 33).

Para ulama sepakat bahwa penyembelihan kurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar di hari Iedul Adha.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan kurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka kurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/377).

Penyembelih kurban

Disunnahkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain.

Syaikh Ali bin Hasan mengatakan: “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ dalam masalah ini.”

Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk disembelih. (lih. Ahkaamul Idain, 32).

Tata Cara Penyembelihan

  • Sebaiknya pemilik kurban menyembelih hewan kurbannya sendiri.
  • Apabila pemilik kurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.
  • Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.
  • Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat supaya cepat putus.
  • Ketika akan menyembelih disyari’akan membaca “Bismillaahi wallaahu akbar” ketika menyembelih. Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar Rahman dan Ar Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib.
  • Kemudian diikuti bacaan: hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud 2795) Atau hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).” atau Berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, “Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban)” (lih. Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi, hal. 92).


Hikmah Disyariatkannya Ibadah Kurban 

1‌. Bukti cinta kepada Allah
2‌. Dengan syiar idul adha, kita sudah menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim Alaihi Salam.
‌3. Tersebarnya kebahagiaan
‌4. Bentuk rasa syukur kepada Allah

Referensi Utama :
Ceramah Ustadz Riyanto, S.Pd.
(Pengajar Ponpes Babul Hikmah, Kalianda Lampung Selatan)
Dalam acara pengajian bulanan Mushola Nurul Huda Desa Gandri.

Disarikan oleh Doni Renaldi dengan beberapa penyesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar