Halal Bihalal : Momentum Saling Memaafkan

Kahutify.com

Dalam sebuah hadits yang telah masyhur dikalangan masyarakat, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda : "Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan paling baik akhlaknya."

Kiranya hadits tersebut dapat menjadi motivasi bagi diri kita untuk terus berbenah dan mengevaluasi diri, sudahkah kita kembali fitri setelah berlalunya bulan suci?, sudahkah kita saling memaafkan setelah datangnya bulan syawal?, dan sudah bertambah baikkah akhlak kita setelah sebulan lamanya ditempa?. Yuk kita renungi bersama.

Berbicara tentang saling memaafkan, maka hari lebaran adalah momentum yang paling menggembirakan untuk umat islam. Karena pada saat lebaran sudah menjadi tradisi untuk saling maaf memaafkan, bahkan telah berkembang juga acara-acara lanjutan yang bertajuk halal-bihalal. Secara maknawi, halal bihalal dapat kita pahami sebagai kegiatan saling memaafkan kesalahan.

Meskipun dalam islam, tradisi saling memaafkan ini bisa dikatakan tidak ada, namun halal-bihalal masih tetap dibolehkan, mengingat kemaslahatan yang lebih besar yang bisa diraih.

Hal ini karena manusia cenderung mau meminta maaf dan memberikan maaf ketika di momen yang tepat, yang salah satunya momen halal bihalal.

Dalam ajaran islam, dikenal sebutan muhsinin yaitu orang-orang yang berbuat baik. Salah satu ciri kebaikan nya adalah suka memaafkan. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam surah Ali-Imran ayat 133-134.

QS Ali 'Imran : 133

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙاُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

QS Ali 'Imran : 134

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗوَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Selain itu, terdapat kisah yang bisa menguatkan semangat kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf. Diantaranya adalah kisah ketikaa Rasulullah dan para sahabat sedang duduk-duduk di sebuah majelis.

Kemudian Nabi Shallallahu'alaihi wassalam mengabarkan bahwa ada seseorang yang dijamin oleh Allah Azza Wa Jalla akan masuk surga.

Datanglah orang pertama, kedua, dst. Tapi ternyata bukan mereka yang Nabi maksudkan. Kemudian datang org terakhir, baru Nabi mengatakan inilah orang nya.

Akan tetap Nabi Shallallahu'alaihi wassalam tidak memberikan penjelasan, sehingga para sahabat mengikuti dan menginap di rumah orang ini untuk mencari tau apa amalan rahasia nya.

Selama beberapa hari, mereka tidak melihat adanya ibadah spesial yang dilakukan orang tersebut. Hingga pada akhirnya mereka bertanya kepada orang tersebut dan merekapun mengetahui bahwa amalan yang menyebabkan ia masuk ke surga adalah memaafkan orang lain sebelum tidur kepada siapa saja yg telah berbuat tidak baik kepada dia.

Dari kisah yang mulia ini, dapat kita ketahui bahwa modal memaafkan adalah kunci kelapangan hati. Sedangkan kunci kelapangan hati adalah dengan memperbanyak istighfar. Dan dengan istighfar akan menggugurkan dosa kita, sehingga peluang masuk ke dalam surga akan semakin besar.

Berikut ini salah satu hadits tentang Saling Memaafkan dan Meminta Maaf.

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bertanya kepada para sahabat :

‌"Wahai sahabat, apakah kalian mengetahui, siapakah orang yang bangkrut (muflis)?"

K‌emudian mereka menjawab, "Wahai nabi, orang yang bangkrut ialah orang yang kehilangan harta benda dan tidak lagi memiliki harta"

L‌alu Rasulullah bersabda, "Orang muflis adalah orang yang datang pada hari kiamat nanti dengan membawa pahala sholat, pahala zakat, pahala puasa, dan pahala lain. Akan tetapi semua pahala itu lenyap di hadapan pengadilan Allah Azza Wa Jalla karena ia telah dzolim"

‌Orang yg didzolimi tersebut nantinya akan datang dan mengambil pahala nya, hingga semua pahalanya habis.

‌Kemudian dosa orang yang di dzolimi tadi di timpakan kepada ia. Hal ini karena pahala nya sudah tidak cukup untuk membayar hutang dosa kapada orang lain.

Berkaitan mengenai riwayat hadits ini, penulis menyarankan pembaca untuk langsung merujuk kepada kitab-kitab hadits demi mendapatkan redaksi hadits yang lebih tepat.

Dari riwayat yang telah diutarakan tadi, kita dapat mengetahui bahwa dosa manusia kepada Allah dapat kita gugurkan dengan cara beristighfar, meminta ampun kepadanya.

Namun, dossa manusia kepada manusia, maka tidak cukup dengan istighfar, melainkan harus saling maaf memaafkan, saling ikhlas dan saling berlapang dada atas segala kesalahan yang telah orang lain perbuat kepadanya.

Akhir kata, semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari momentum ini agar bisa saling maaf memaafkan dan saling membersihkan diri dari segala penyakit hati. 

Wallohu'alam.

Disarikan dari ceramah Ustadz Hilmi, L.C. (Pengajar Ponpes Babul Hikmah, Kalianda, Lampung Selatan).

Dalam acara pengajian bulanan di Mushola Nurul Huda, Desa Gandri, Lampung Selatan.

Posting Komentar

0 Komentar