Hikmah Penciptaan Lisan

kahutify.com

‘’Hikmah Penciptaan Lisan”

Pernah ga sih muncul pertanyaan dalam benak kita, mengapa Allah ﷻ menciptakan lisan seseorang itu hanya satu, dan mengapa harus diletakkan di depan?.

Pertanyaan ini mungkin bagi sebagian orang cukup membingungkan. Namun taukah kita, bahwa Allah ﷻ telah memberikan pesan secara tersirat dalam Al-Qur’an tentang hikmah penciptaan lisan. Lisan secara fisik diletakkan didepan bertujuan agar manusia tidak banyak membicarakan sesuatu dibelakang, juga agar manusia tidak membicarakan sesuatu yang tidak pantas didepan, sehingga meruntuhkan kehormatan dan kemuliaan dirinya. Tentunya ini menjadi nasihat dan pengingat untuk penulis dan kita semua sebagai manusia.

Untuk itulah kemudian Allah ﷻ menurunkan beragam ayat yang mengisyaratkan pesan dan hikmah yang mulia ini. Salah satunya Allah ﷻ terangkan dalam Al-Qur’an surah ke 49, Al-Hujurat ayat 11 - 12, sebagai berikut;

QS Al-Hujurat : 11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

QS Al-Hujurat : 12

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Kedua ayat ini jika kita kaitkan dengan lisan, maka secara sederhana dapat kita fahami bahwa Allah telah menyeru kepada orang-orang yang beriman, hai orang-orang yang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah ﷻ, jangan kau gunakan lisan mu untuk mencela, jangan kau gunakan lisan mu untuk berghibah, bergosip, membuat hoax, membicarakan sesuatu dibelakang, sesuatu yang dilarang. Begitupun dengan membicarakan yang kasar di depan, karena hal itu adalah sesuatu yang sangat dikecam. Untuk itulah Allah ﷻ menciptakan lisan kita, mulut kita, didepan, agar kita tidak banyak mengumbar keburukan dibelakang sekaligus agar tidak menghadirkan kata-kata yang tidak pantas, yang meruntuhkan kehormatan, di depan.

Pun demikian, menariknya Allah ﷻ menciptakan mulut kita satu, telinga kita dua, mata kita dua, tangan kaki kita dua seakan-akan mengisyaratkan kepada kita bahwa kadangkala manusia harus lebih banyak mendengar, lebih banyak melihat, lebih banyak bergerak dibandingkan dengan banyak berbicara dan berkomentar.

Berarti kalo gitu kita ga boleh banyak ngomong dong?
Ga boleh banyak komentar dong?
Boleh kok, akan tetapi berbicara dan berkomentar nya sesuai dengan kemampuan dan dasar pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak membicarakan apa yang tidak diketahuinya. Berbicaralah sesuai porsi dan sesuai tempatnya. Hendaknya kita tau kapan harus berbicara, dan paham kapan harus diam dan mendengar.

Lalu, sebenarnya kenapa sih kok kita harus menjaga lisan kita?

Karena lisan kita, termasuk juga pendengaran, penglihatan, dan nalar adalah sumber pengetahuan, maka kita wajib memilah dan memilih terkait apa saja yang harus kita dengar, kita lihat, kita pikirkan, dan kita bicarakan. Selain itu karena nanti, segala yang kita lakukan didunia akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban nya oleh Allah ﷻ.

Allah ﷻ Berfirman dalam QS Al-Isra' : 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Ayat ini menjadi reminder untuk kita, bahwa jangan pernah kita ikuti, mengambil sikap, untuk bisa mengerjakan suatu hal, tanpa dasar pengetahuan, karena sungguh sumber informasi itu, sumber pengetahuan itu meliputi pendengaran, penglihatan, dan nalar kita yang pada suatu saat akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah ﷻ.

Demikian sedikit tentang hikmah penciptaan lisan yang bisa kita jadikan pelajaran sehingga kedepannya kita mampu menjadi orang muslim yang bukan hanya baik ibadahnya namun juga baik akhlaknya.
Jika berkenan penulis ingin menutup tulisan ini dengan salah satu falsafah hidup orang jawa, yakni :
‘’Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono’’
Harga diri seseorang dari lisan nya, dan harga diri badan dari pakaian nya.

Terimakasih atas perhatiannya, mohon maaf atas kekurangan nya.
Semoga bermanfaat, Salam Muda Salam Berkarya.

Disarikan dari Ceramah Ustadz Adi Hidayat, Lc., M.A. dengan beberapa penyesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar