Hari Buku Nasional Sebagai Momentum Kebangkitan Minat Baca dan Literasi

 

GPMB - Kahutify

Sejarah Singkat GPMB

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional pada tahun 2015, diketahui bahwa minat baca masyarakat indonesia masih 25,1 atau masih rendah. Riset ini dilakukan pada 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden. Dalam riset ini ada beberapa indikator utama yakni frekuensi membaca per minggu, lama membaca per hari, jumlah halaman dibaca per minggu, dan alokasi dana untuk belanja buku per tahun.

Selain itu, pada 3 tahun sebelumnya, dari data statistik UNESCO menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0.001. Artinya, dari 1.000 penduduk hanya ada satu warga yang tertarik untuk membaca. Dengan berkaca pada hasil riset tersebut, Perpustakaan Nasional berupaya untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan membentuk Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB).

Pada dasarnya, GPMB ini sebenarnya telah lama dibentuk yakni pada 5 Oktober 2001 di Istana Bogor. GPMB dibentuk sebagai tindak lanjut dari Pencanangan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan pada tanggal 14 September 1995 oleh Presiden RI. Sebagai organisasi sosial yang berskala nasional, GPMB memiliki pengurus daerah baik di daerah provinsi maupun daerah kabupaten/kota. Namun demikian, belum semua provinsi dan kabupaten/kota memiliki pengurus daerah GPMB.

Azas, Sifat, Fungsi, Visi dan Misi GPMB

Dilansir dari https://gpmb.perpusnas.go.id, berikut ini adalah azas, sifat, fungsi dan visi misi dari GPMB.

Azas :
Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) berazaskan Pancasila
Sifat :
Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) bersifat sosial kemasyarakatan yang independen dan tidak bersifat politik
Fungsi :
GPMB berfungsi sebagai wadah kegiatan untuk menggerakkan peningkatan minat baca masyarakat
Visi :
Visi GPMB adalah terciptanya masyarakat gemar membaca, masyarakat belajar, masyarakat berpengetahuan yang yang cerdas dan berbudaya, berdaya saing tinggi serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Misi :
(1) Menyadarkan masyarakat akan pentingnya membaca dan belajar seumur hidup sebagai wahana mencerdaskan kehidupan bangsa;
(2) Menyelenggarakan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca secara terus menerus di seluruh lapisan masyarakat;
(3) Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam maupun luar negeri.

Peran dan Eksistensi GPMB

Bulan Mei 2021 yang lalu adalah momentum penting bagi kebangkitan gerakan minat baca dan literasi Indonesia. Di bulan ini, berturut-turut diselenggarakan agenda-agenda nasional penting oleh lembaga-lembaga yang bergerak dalam minat baca dan literasi. Salah satu lembaga yang paling konsisten dalam upaya tersebut adalah Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). Sejak didirikan pada tanggal 25 Oktober 2001 di Istana Bogor, selama 20 tahun GPMB terus konsisten mewarnai dan memfasilitasi gerakan pembudayaan minat baca masyarakat.

Sebagai mitra strategis dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, konsistensi GPMB tentu tidak dapat dipisahkan dari keberadaan dan kiprah perpustakaan dan pegiat literasi baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten dan kota hingga kecamatan, kelurahan dan desa. Pada tanggal 17 Mei 2021, tepat di Hari Buku Nasional, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah menorehkan banyak karya dan kontribusi selama 41 tahun melayani dan mengabdi dengan upaya penyediaan buku dan pelayanan kepustakaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tahun 2021 Perpusnas mengusung tema “Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural”. Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando menyatakan pihaknya terus melakukan upaya penguatan budaya baca dan literasi untuk membangun komunitas masyarakat yang berbudaya baca dan tinggi tingkat literasinya.

20 Tahun GPMB Dalam Membudayakan Minat Baca dan Literasi

Pada Hari Buku Nasional 17 Mei 2021 pula, telah dilaksanakan pencanangan kembali Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku Untuk Anak (Gernas Baku), yang juga didukung oleh GPMB. Meski kegiatan diselenggarakan berbeda tempat dengan parayaan Hari Buku Nasional dan HUT Perpusnas RI, namun ada sesuatu yang sangat menarik, bahwa aktivitas, aktor pelaksana, dan gagasan yang diusung saling berkaitan dan menguatkan. Gernas Baku semula adalah program dan kegiatan yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga (Ditbindikkel) di bawah Direktorat Jenderal PAUD Dikmas.

Ketua Umum PP Himpaudi, Netti Herawati, dalam peluncuran Gernas Baku 2021 mengemukakan bahwa program ini pada awalnya dimotori pemerintah menjadi gerakan bersama yaitu gerakan masyarakat. Ketua Umum Pengurus Pusat GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca) Tjahjo Suprajogo, dalam sambutan dan paparannya di acara tersebut menyambut baik inisiatif kerjasama dari PP HIMPAUDI, karena seirama dengan gerakan GPMB. “Sesuai amanah Musyawarah Nasional (MUNAS) GPMB Ke VI tahun 2019 lalu, maka gerakan menumbuhkan minat, kegemaran, budaya baca dan literasi masyarakat adalah dimulai dari keluarga dan sejak usia dini, berlanjut pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi dengan pelibatan satuan pendidikan, komunitas dan masyarakat” kata Tjahjo menambahkan.


Realisasi dari program tersebut telah nyata dijalankan dan dirasakan. Program yang sudah secara konsisten berjalan yaitu diskusi Seri Minat Baca dan Lemon (Literasi Mode On) Sore. Dua program ini masing-masing telah berjalan 16 kali sejak diluncurkan awal 2020. Perbedaan dua program itu, menurut Sekjen PP GPMB Robinson Rusdi, terletak pada segmen pesertanya. “Sasaran program Lemon Sore khusus untuk kalangan milenial dan genZ, sekaligus menjadi upaya regenerasi pegiat minat baca dan literasi. Sementara Seri Minat Baca ditujukan untuk masyarakat umum”, ujar Robinson. Di bulan Mei, Lemon Sore diadakan pada tanggal 21 Mei 2021 dengan tema “Milenial Berani Nulis Buku” dengan mengundang 2 narasumber penulis muda yaitu Yuni Lasari dan Rara Zarary. Sedangkan Seri Minat Baca diselenggarakan pada tanggal 23 Mei 2021 dengan tema “Mendongeng untuk Meningkatkan Minat dan Kegemaran Membaca” dengan pemateri Kak Awam Prakoso, pendongeng nasional. Di bulan ini pula, anggota Dewan Pembina GPMB, yaitu Gol A Gong, telah dikukuhkan oleh Perpusnas RI sebagai Duta Baca Indonesia menggantikan Najwa Shihab yang habis masa baktinya. Dalam sambutannya setelah dilantik, Gol A Gong mengajak seluruh masyarakat untuk bangkit dan gemar tidak hanya membaca tapi juga menulis. “Mari kita makin Berdaya dengan Buku,” kata Gol A Gong.


Dua puluh tahun kiprah GPMB ini tentunya tidak lepas dari kerjasama dan kolaborasi dengan banyak pihak. Menurut Kepala Biro Humas dan Kerjasama PP GPMB Dani Akhyar, selain dengan Perpusnas RI dan Himpaudi, PP GPMB menjalin kerjasama dengan dinas-dinas perpustakaan propinsi dan kabupaten/kota, Kemendikbud, Reading Bug, Komunitas Bengkel Kreasi, Kampung Dongeng Indonesia, lalu di sektor swasta ada Bimba AIUEO dan Smartfren Telecom, dan berbagai perguruan tinggi antara lain Universitas Pembangunan Jaya, Universitas Multimedia Nusantara, dan Pascasarjana INAIS Bogor.

Semoga Bermanfaat
Salam Muda, Salam Berkarya, Salam Literasi

Sumber Referensi :

https://library.unusa.ac.id 
Humas & Kerjasama PP GPMB

Posting Komentar

0 Komentar