Langsung ke konten utama

Hikmah Penciptaan Lisan

Sejarah Islam di Indonesia

''SEJARAH ISLAM DI INDONESIA''


A.    WAKTU MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Di lihat dari proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia, ada tiga teori yang berkembang. Teori Gujarat, teori Makkah, dan teori Persia (Ahmad Mansur, 1996). Ketiga teori tersebut, saling mengemukakan perspektif kapan masuknya Islam, asal negara, penyebar atau pembawa Islam ke Nusantara.
1.      Teori Mekah
Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab.
 Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.[1]
2.       Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje, kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar “sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.[2]
3.      Teori Persia
Teori Persia mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari daerah Persia atau Parsi (kini Iran). Pencetus dari teori ini adalah Hoesein Djajadiningrat, sejarawan asal Banten. Dalam memberikan argumentasinya, Hoesein lebih menitikberatkan analisisnya pada kesamaan budaya dan tradisi yang berkembang antara masyarakat Parsi dan Indonesia.
Tradisi tersebut antara lain: tradisi merayakan 10 Muharram atau Asyuro sebagai hari suci kaum Syiah atas kematian Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad, seperti yang berkembang dalam tradisi tabut di Pariaman di Sumatera Barat. Istilah “tabut” (keranda) diambil dari bahasa Arab yang ditranslasi melalui bahasa Parsi. Tradisi lain adalah ajaran mistik yang banyak kesamaan, misalnya antara ajaran Syekh Siti Jenar dari Jawa Tengah dengan ajaran sufi Al-Hallaj dari Persia. Bukan kebetulan, keduanya mati dihukum oleh penguasa setempat karena ajaran-ajarannya dinilai bertentangan dengan ketauhidan Islam (murtad) dan membahayakan stabilitas politik dan sosial. Alasan lain yang dikemukakan Hoesein yang sejalan dengan teori Moquetta, yaitu ada kesamaan seni kaligrafi pahat pada batu-batu nisan yang dipakai di kuburan Islam awal di Indonesia. Kesamaan lain adalah bahwa umat Islam Indonesia menganut mahzab Syafei, sama seperti kebanyak muslim di Iran.[3]
4.  Teori cina
teori ini diketahui melalui catatan dari Ma Huan, seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal di pantai utara Pulai Jawa.11 T.W. Arnol pun mengatakan para pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, ketika mereka mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijrah atau abad ke-7 dan ke-8 M. Dalam sumber-sumber Cina disebutkan bahwa pada abad ke-7 M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera (disebut Ta’shih).[4]


B. BUKTI MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
1.      Surat Raja Sriwijaya
Salah satu bukti tentang masuknya Islam ke Indonesia dikemukakan oleh Prof.Dr.Azyumardi Asra dalam bukunya Jaringan Ulama Nusantara. Dalam buku itu, Azyumardi menyebutkan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada masa Kerajaan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan dengan adanya surat yang dikirim oleh Raja Sriwijaya kepada Umar bin Abdul Azis yang berisi ucapan selamat atas terpilihnya Umar bin Abdul Azis sebagai pemimpin dinasti Muawiyah.


2.      Makam Fatimah binti Maimun
Berdasarkan penelitian sejarah telah ditemukan sebuah makan Islam di Leran, Gresik. Pada batu nisan dari makam tersebut tertulis nama seorang wanita, yaitu Fatimah binti Maimun dan angka tahun 1082. Artinya, dapat dipastikan bahwa pada akhir abad ke-11 Islam telah masuk ke Indonesia. Dengan demikian, dapat diduga bahwa Islam telah masuk dan berkembang di Indonesia sebelum tahun 1082.  


3.      Makam Sultan Malik As Saleh
Makam Sultam Malik As Saleh yang berangka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Aceh pada abad ke-12. Mengingat Malik As Saleh adalah seorang sultan, maka dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke daerah Aceh jauh sebelum Malik As Saleh mendirikan Kesultanan Samudra Pasai.

4.      Cerita Marco Polo
Pada tahun 1092, Marco Polo, seorang musafir dari Venesia (Italia) singgah di Perlak dan beberapa tempat di Aceh bagian Utara. Marco Polo sedang melakukan perjalanan dari Venesia ke NegerI Cina. Ia menceritakan bahwa pada abad ke-11, Islam telah berkembang di Sumatra bagian Utara. Ia juga menceritakan bahwa Islam telah berkembang sangat pesat di Jawa.

5.      Cerita Ibnu Battutah
Pada tahun 1345, Ibnu Battutah mengunjungi Samudra Pasai. Ia menceritakan bahwa Sultan Samudra Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya. Di samping itu, ia menceritakan bahwa Samudra Pasai merupakan kesultanan dagang yang sangat maju. Di sana Ibnu Battutah bertemu dengan para pedagang dari India, Cina, dan Jawa.[5]


C. JALUR PELAYARAN MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA

Islam masuk ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu:
1.      Jalur utara dengan rute: Arab (Mekah dan Madina) – Damaskus – Bagdad – Gujarat (Pantai barat India) – Srilanka – Indonesia.
2.      Jalur selatan dengan rute: Arab (Mekah da Madinah) – Yaman – Gujarat – Srilanka – Indonesia
Dalam waktu yang tidak begitu lama Islam masuk ke Indonesia, Islam telah tersebar ke seluruh penjuru kepulauan Indonesia.Penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia sangat pesat. Hal ini disebabkan antara lain:

a)      Adanya dorongan kewajiban bagi setiap muslim untuk berdakwah menyiarkan Islam sesuai kemampuan mereka masing-masing. Nabi Muhammad saw bersabda: “Sampaikanlah olehmu apa-apa yang berasal dariku, walau hanya satu ayat” (Al Hadis)
b)      Adanya tekad dan keuletan yang dimiliki oleh para juru dakwah untuk berdakwah secara terus-menerus kepada keluarganya, tetangganya dan masyarakat sekitarnya. Mereka berdakawa sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya, yakni: tidak dengan jalan paksaan, kekerasan, melainkan dengan cara bijaksana, dengan pangajaran yang baik, dengan bertukar pikiran disertai dengan argumen-argumen yang tepat, dan dengan contoh teladan yang betul-betul Islami.

c)      Persyaratan masuk Islam sangat mudah. Seseorang telah dianggap masuk Islam ketika telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Demikian juga ajaran Islam lebih mudah dipahami, lebih sederhana dan lebih masuk akan dibanding agama lainnya.

d)      Ajaran Islam yang tidak memandang kasta dan tidak kata diskriminasi mudah menarik simpati rakyat, terutama dari lapisan bawah.
e)      Banyak raja-raja Islam yang ada di berbagai penjuru tanah air sehingga para rakyatnya juga mengikuti apa yang dilakukan oleh rajanya




D.  Proses Islamisasi
Islam disebarkan dengan cara damai bukan dengan kekerasan apalagi dengan pedang. Islam masuk seirama dengan budaya setempat, Islam tidak melakukan perubahan secara radikal dan sporadis, bahkan Islam dijadikan stabilisator aoabila stuasi politik sedang mengalami ketidak-stabilan karena perebutan kekuasaan antara beberapa kalangan.[6] Badri Yatim mengutip pendapat Candarsasmita yang mengatakan bahwa penyeberan Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai melalu enam cara berikut :[7]

1)      Perdagangan
Pada tahap awal, jalur perdagangan adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan , karena lalu-lintas perdagangan memang telah ramai sejak abad ke-7 sampai abad ke-16 M. Jalur ini sangat menguntungkan karena para raja-raja juga terlibat dalam aktivitas perdagangan ini, bahkan mereka merupakan pemilik kapal dan saham. Selanjutnya jalur ini menjadi lebih penting dan strategis karena sebagaian dari mereka adalah penguasa, sehingga proses Islamisasi lebih mudah terlaksana.

2)      Perkawninan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim mempunyai status yang lebih baik dibandingkan dengan mayoritas penduduk pribumi, sehingga penduduk pribumi dan khususnya para putri raja tertarik untuk menjadi istri para saudagar. Sebelum mereka menikah, biasanya putri ini diIslamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, dengan otomatis tentu saja lingkungan dan penduduk muslimpun semakin luas hingga mereka bisa membentuk pemukiman, hingga pada gilirannya terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam. Jalur ini menguntungkan karena dengan keterlibatan kalangan istana dan keturunannya akan mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang dilakukan oleh Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manil, Sunan Gunung Jati dengan putri Kawungten, Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Fatah (raja pertama kerajaan Demak).

3)      Tasawwuf
Pengajar-pengajar tasawwuf atau para sufi mengajarkan ajaran agama bercampur dengan kebudayaan yang telah masyarakat kenal sebelumnya. Para muballigh ini juga mahir dalam ilmu kebathinan dan pengobatan. Dengan cara dan jalur ini, Islam menyeber dengan cara yang menyentuh dan memberi kesan damai. Diantara mereka ini adalah Hamzah Fansyuri di Aceh, Sekh Lemang Abang dan Sunan Panggung di Jawa.

4)      Pendidikan
Penyebaran agama Islam juga dilakukan melalu jalur pendidikan, yakni pesantren meskipun dalam arti yang lebih sederhana. Di pesantren atau pondok, para kyiai dan guru mengajar dan menyebarkan ajaran Islam. Santri-santri yang telah menamatkan kajiannya akan keluar dan wajib menyebarkan ajaran Islam. Conth pesantren ini adalah seperti pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Ampel, dan Sunan Giri di Giri.

5)      Kesenian
Penyebaran dakwah melalui kesenian maksudnya adalah menyampaikan dakwah ajaran Islam melalui kesenian yang telah ada dan dikenal dekat oleh masyarakat setempat. Di Jawa, media utamanya adalah wayang, dalam hal ini Sunan Kalijaga adalah salah satu sunan yang ahli memainkan wayang, setiap kali penonton ingin menyaksikan pertunjukannya, beliau meminta mereka untuk mengucapkan kalimat syahadat, namun beliau tidak mengatakan bahwa itu merupakan ucapan bagi orang yang akan masuk agama Islam. Selanjutnya dalam setiap lakon yang dimainkan, seperti kisah Mahabrata dan yang lainnya, maka beliau akan menyelipkan nama tokoh Islam. Tanpa disadari, kepada para penonton telah diperkenalkan beberapa ajaran Islam. Cara ini ternyata sangat efektif, karena para penonton tidak merasa terpaksa untuk mengikuti dakwah dan ajaran yang disebarkan melalui media wayang.[8]

6)      Politik dan Kekuasaan
Di kepulauan Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan para penduduk masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu, sehingga peran dan partisipasi raja sangat membantu proses Islamisasi di daerah tersebut. Di bagian Timur Indonesia baik di daerah Sumatera dan Jawa banyak kerajaan-kerajaan Islam yang demi kepentingan politiknya memerangi kerajaan non-Islam. Ke-enam jalur yang dipergunakan oleh para pembawa ajaran Islam seolah-olah terlihat menumpang di sela-sela institusi yang telah dikenal oleh masyarakat setempat, baik melalui kesenian dan kebudayaan masyarakat.[9]


E. Faktor-faktor Islam Mudah Diterima di Nusantara

1.      Penyebaran agama dengan konsep akulturasi, damai dan tanpa kekerasan
Proses penyebaran agama Islam yang dilakukan para leluhur, Wali Songo dan ulama terdahulu menggunakan cara-cara yang damai, tanpa kekerasan sehingga mudah diterima oleh masyarakat.Tradisi, adat dan budaya tidak ditentang, tapi dimasuki unsur dan nilai-nilai Islami yang substantif. Sebagian ritus atau ritualnya dipertahankan, tetapi substansi, esensi dan nilainya adalah Islam.

2.      .Politik kedekatan dengan kekuasaan
Runtuhnya kerajaan Majapahit kemudian lahir pemerintahan baru bernama Kesultanan Demak Bintoro tidak lepas dari buah politik untuk memperluas ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW.Politik tidak selalu identik dengan hal negatif, tetapi menjadi sebuah cara untuk menuju cita-cita penyebaran Islam di Tanah Jawa, termasuk Nusantara. Kegagalan pendakwah terdahulu, karena mereka mengabaikan faktor politik dan kedekatan dengan kekuasaan.Hingga ketika peran Wali Songo masuk dalam lingkaran Kerajaan Majapahit, agama Islam mulai diakui eksistensinya bersama dengan Hindu dan Buddha. Dengan peran para wali pula, Kesultanan Demak lahir sebagai tonggak sejarah meluasnya umat Islam di Nusantara.

3.      Islam tidak kenal strata, kasta atau pelapisan sosial
Dalam ajaran agama Islam, yang membedakan seseorang mulia atau tidak adalah ketakwaanya, bukan kekayaan, jabatan, darah biru, atau faktor lainnya. Selama seseorang itu bertakwa, maka dia sangat mulai di mata Tuhan. Semua orang sejajar yang dalam ritusnya diajarkan pada sholat berjamaah. Umat Muslim boleh menjadi imam asal agamanya baik, boleh duduk berdampingan dengan siapa saja, di shaf bagian mana saja. Tidak ada pembedaan pejabat atau ningrat harus berada di depan. Maka, saat Nusantara waktu itu mengenal kasta, maka Islam disambut oleh masyarakat luas. Nilai-nilai sosial juga sangat diajarkan dalam Islam, sehingga Islam bukan hanya menekankan hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan manusia dengan manusia).


4.      . Ritualnya sangat sederhana dan mudah
Setiap agama memiliki ritual atau beribadah tersendiri. Ibadah Islam sangat simpel, seperti sholat untuk beribadah kepada Tuhan melalui Tuhan, zakat untuk beribadah kepada Tuhan melalui manusia, puasa yang diwajibkan pada bulan Ramadhan saja, haji kalau mampu.

5.      Masuk Islam cukup 2 kalimat syahadat
Tidak ada syarat yang macam-macam untuk masuk Islam. Cukup bersyahadat dua kali dengan sepenuh keimanan, bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita dan Muhammad SAW adalah rasul-Nya, maka sudah masuk Islam.

6.      Agama yang bertumpu pada kedamaian
Kata “Islam” artinya adalah damai, sejahtera. Maka umat Islam sesungguhnya umat yang terus menyerukan perdamaian. Kenapa sejarahnya ada perang? Kamu harus tahu bahwa Nabi Muhammad memutuskan untuk perang melawan kaum kafir setelah 8 tahun umatnya disiksa, dianiaya, dijarah dan hak-haknya dirampas. Sahabat Nabi pernah memprotes, kenapa Nabi tidak melawan? Nabi menjawab, menunggu perintah Allah. Setelah wahyu turun, Nabi dan umatnya baru memutuskan untuk perang. Itupun banyak syarat dan aturan dari Nabi yang harus dilakukan selama perang. Contohnya, tidak boleh menganiaya orang tua, janda, pekerja atau petani, bahkan pedang pasukan Islam tidak boleh menebas pohon sekalipun. Sungguh luar biasa ajaran beliau Rasulullah SAW. Kalau banyak Muslim yang saat ini “bersumbu pendek”, gampang marah dan mudah mengkafirkan orang lain, tentu mereka tidak sejalan dengan nilai-nilai yang ajarkan Islam. Cobalah belajar sejarah.

7.      Aturan dalam Islam tidak memaksa dan fleksibel
Umat Islam memang diwajibkan, tetapi juga dimudahkan dalam kondisi dan konteks tertentu. Misalnya, ibadah haji sesungguhnya wajib karena menjadi syarat. Namun, umat Muslim diperbolehkan tidak melaksanakan haji jika tidak mampu, baik dalam hal keuangan-finansial maupun kesehatan. Contoh lain, orang boleh membatalkan puasa wajib jika berhalangan, mungkin karena kesehatan atau lainnya. Sholat lima waktu juga boleh dijamak bila dalam perjalanan jauh lebih dari 90 kilometer. Bahkan, tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam. Hal itu tercantum dalam Al Quran Surat Al Baqarah 256.
Faktor-faktor tersebut menarik kegemaran penduduk setempat untuk menganut agama Islam dengan suka hati, disamping para saudagar yang datan ke-gugusan pulau-pulau Nusantara tidak membawa serta istri mereka atau memang mereka belum mempunyai istri. Hal ini kemudian mendorong mereka untuk menikahi wanita-wanita penduduk pribumi, dan tentu saja isteri-isteri mereka ini akan masuk Islam, dengan begitu, serta keturunan mereka akan memperbanyak kaum muslim di daerah tersebut.
Pendapat lain yang hampir serupa mengemukakan bahwa setidaknya ada tiga determinasi yang mempercepat proses penyebaran agama Islam di Indonesia yaitu :

1.      Pertama adalah karena ajaran Islam itu mengajarkan tauhid, hal ini ternyata merupakan ajaran baru yang secara diametral bertentangan dengan hubungan kemasyarakatan saat itu yaitu sistem kasta yang merupakan ajaran Hindu. Selain itu, Islam juga mengajarkan egalitarian (keadilan), kesamaan serta prinsip rasionalitas. Islam tidak pernah memerintahkan sesuatu yang diluar jangkauan para penganutnya.
2.      Kedua adalah fleksibilitas ajaran agama Islam itu sendiri, dengan kata lain bahwa ajaran agama itu merupakan kodifikasi kebenaran-kebenaran universal. Misalnya ada sesuatu yang telah berkembang pada masyarakat, maka Islam tidak akan merubahnya secara spontan. Tetapi manakala hal itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka disinilah dilakukan proses Islamisasi.
3.      Ketiga adalah bahwa pada akhirnya Islam itu digunakan untuk melawan ekspansi luar atas mereka.




[1] Prof. Dr. ahwan mukarrom. MA, sejarah islam di Indonesia 1, hal 53
Seminar lecture sejarah islam di Indonesia, Medan, 1963
[2] Prof. Dr. ahwan mukarrom. MA, sejarah islam di Indonesia 1, hal 54
Seminar lecture sejarah islam di Indonesia, Medan, 1963

[3] Prof. Dr. ahwan mukarrom. MA, sejarah islam di Indonesia 1, hal 54
[4] Prof. Dr. ahwan mukarrom. MA, sejarah islam di Indonesia 1, hal 55
[5] Prof. Dr. azzumardi azra, sejarah peradaban islam
[6] Uka Candasasmita, Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984) hal. 26.
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2000) hal. 201-202.
[8] Uka Candasasmita, Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984) hal. 26.


[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2000) hal. 201-202.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empirisme Analitis

''Empirisme Analitis'' Teori ilmu dari kaum Empiris Analitis dibangun dengan semangat untuk mengatasi kekurangan Positivme dan Empirisme Logis dan Rasionalisme Kritis. Sekalipun demikian, menurut Wuisman, teori yang dikemukakan Empirime Analitis bukan penggabungan murni d an kedua aliran berpikir diatas, melainkan hanya  suatu penyesuaian lebih lanjut dari model penelitian ilmiah dikembangkan oleh Positivme dan EmpirismeLogis pada titik-titik yang dilontarkan terhadapnya oleh Rasionalisme Kritis. Emprisme Analitis menggambarkan proses penelitian ilmiah sebagai sebuah siklus (daur). Teori inintimbul dalam hubungan dengan usaha-usaha untuk menerapkan Positivme dan Empirisme Logis pada bidang studi social tertentu. Empirisme Analitis bermaksud menerangkan tentang apa itu pengetahuan ilmiah, bagaimana ilmu berkembang, dan metode penelitian apa yang cocok dipakai untuk mengembangkan ilmu. De Groot menyebutkan lima tahap membentuk siklus empiris dalam pengembangan pe

Hikmah Penciptaan Lisan

‘’Hikmah Penciptaan Lisan” Pernah ga sih muncul pertanyaan dalam benak kita, mengapa Allah ﷻ menciptakan lisan seseorang itu hanya satu, dan mengapa harus diletakkan di depan?. Pertanyaan ini mungkin bagi sebagian orang cukup membingungkan. Namun taukah kita, bahwa Allah ﷻ telah memberikan pesan secara tersirat dalam Al-Qur’an tentang hikmah penciptaan lisan. Lisan secara fisik diletakkan didepan bertujuan agar manusia tidak banyak membicarakan sesuatu dibelakang, juga agar manusia tidak membicarakan sesuatu yang tidak pantas didepan, sehingga meruntuhkan kehormatan dan kemuliaan dirinya. Tentunya ini menjadi nasihat dan pengingat untuk penulis dan kita semua sebagai manusia. Untuk itulah kemudian Allah ﷻ menurunkan beragam ayat yang mengisyaratkan pesan dan hikmah yang mulia ini. Salah satunya Allah ﷻ terangkan dalam Al-Qur’an surah ke 49, Al-Hujurat ayat 11 - 12, sebagai berikut; QS Al-Hujurat : 11 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْن

Uji Coba Smartfren 5G Bersama Kominfo, Kecepatannya Bikin Melongo

  Mengenal jaringan 5G Dilansir dari situs Cisco.com, 5G merupakan teknologi seluler generasi kelima. Ini dirancang untuk meningkatkan kecepatan, mengurangi latensi, dan meningkatkan fleksibilitas layanan nirkabel. Jaringan 5G juga akan menyederhanakan mobilitas, dengan kemampuan roaming terbuka tanpa batas antara akses seluler dan Wi-Fi. Pengguna seluler dapat tetap terhubung saat mereka berpindah antara koneksi nirkabel luar ruang dan jaringan nirkabel di dalam gedung tanpa campur tangan pengguna atau pengguna perlu mengautentikasi ulang. Lalu Bagaimana cara kerja teknologi 5G? Teknologi 5G akan memperkenalkan kemajuan di seluruh arsitektur jaringan. Radio Baru 5G, standar global untuk antarmuka udara nirkabel 5G yang lebih mampu, akan mencakup spektrum yang tidak digunakan dalam 4G. Keuntungan menggunakan jaringan 5G Dilansir dari instagram @smartfrenworld, ada beberapa keuntungan yang akan kita dapatkan jika menggunakan jaringan 5G, diantaranya : 1. Koneksi internet 100x lebih cepa