Empirisme Analitis



''Empirisme Analitis''

Teori ilmu dari kaum Empiris Analitis dibangun dengan semangat untuk mengatasi kekurangan Positivme dan Empirisme Logis dan Rasionalisme Kritis. Sekalipun demikian, menurut Wuisman, teori yang dikemukakan Empirime Analitis bukan penggabungan murni d an kedua aliran berpikir diatas, melainkan hanya  suatu penyesuaian lebih lanjut dari model penelitian ilmiah dikembangkan oleh Positivme dan EmpirismeLogis pada titik-titik yang dilontarkan terhadapnya oleh Rasionalisme Kritis.
Emprisme Analitis menggambarkan proses penelitian ilmiah sebagai sebuah siklus (daur). Teori inintimbul dalam hubungan dengan usaha-usaha untuk menerapkan Positivme dan Empirisme Logis pada bidang studi social tertentu. Empirisme Analitis bermaksud menerangkan tentang apa itu pengetahuan ilmiah, bagaimana ilmu berkembang, dan metode penelitian apa yang cocok dipakai untuk mengembangkan ilmu.
De Groot menyebutkan lima tahap membentuk siklus empiris dalam pengembangan pengetahuan ilmiah.
Tahap 1 : Observasi, pada tahap ini fakta-fakta empiris dikumpulan dan dikelompokan, fakta yang bersifat tunggal dan majemuk.
Tahap 2 : Induksi, induksi adalah dasar perumusan hipotesis. Pernyataan-pernyatan spesifik yang diperoleh dari observasi fakta-fakta tersebut,kemudian dicarikan pola-polanya dengan meletakan asumsi-asumsi tertentu.
Tahap 3 : Deduksi, tahap ini meliputi kegiatan pembuatan ramalan konkret berdasarkan rumusan hipotesis pada tahap sebelumnya.
Tahap 4 : Pengujian, pengujian adalah kegiatan penelitian yang meliputi dua hak berlainan. Pertama, penentuan benar tidaknya ramalan yang telah ditegaskan sebelumnya. Kedua, tahap ini juga merupakan penentuan sejauh mana hasil yang diperoleh mendukung hipotesis dari mana ramalan itu diturunkan.
Tahap 5 : Evaluasi, evaluasi meliputi unsure subjektif dan irasional karena merupakan kegiatan interpretative dari si peneliti.

                Istilah “Empirisme” dari kata “Empirisme Analitis” menunjukan pengetahuan ilmiah dianggap dikembangkan mulai dari dasar empiris “objektif”. Teori yang dikembangkan dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan tingkat konfirmasi yang diperoleh dari dasar empiris itu. Disebut “Analitis” karena pengelolahan keterangan empiris tadi menjadi pengetahuan ilmiah dilakukan dalam pikiran (dengan bantuan konsep-konsep abstrak).

Posting Komentar

0 Komentar