Sejarah Peradaban Islam

"Sejarah Peradaban Islam"

1. Sejarah Perkembangan Agama di Eropa

Kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah Hak yang tidak diciptakan oleh
masyarakat atau Negara, melainkan suatu anugrah yang dimiliki oleh setiap individu atau kelompok keagamaan atau kepercayaan melalui hakikat kemanusiaan.
Kebebasan beragama (religious freedom/liberty, hurriyya diniyya, liberte de
conscience) adalah prinsip yang mendukung kebebasan individu atau masyarakat, untuk menerapkan agama atau kepercayaan dalam ruang pribadi maupun umum.

Kebebasan beragama sendiri sebagai sebuah gagasan, dasar dan nilai yang merupakan tanggung jawab dan kewajiban bagiseluruh pihak yaitu diantaranya : Negara, Civil Society, dan Umat Beragama. Karena itu, kebebasan beragama bukanlah hanya
urusan Negara atau LSM-LSM yang bergerak di dalam advokasi HAM.

HAM (Hak Asasi Manusia) adalah hak-hak dasar yang telah dimiliki atau dipunyai seseorang sejak ia masih dalam kandungan. Hak asai dapat dirumuskan
sebagai hak yang melekat dengan kodrat kita sebagai manusia. Hak ini dimiliki oleh manusia semata-mata karena ia manusia bukan karena pemberian masyarakat atau pemberian Negara. Maka hak asasi manusia itu tidak tergantung dari pengakuan manusia lain, masyarakat lain, atau Negara lain. Hak Asasi Manusia (HAM) juga merupakan seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang maha Kuasa dan mrupakan anugerah-Nya yang wajib
dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara, Hukum, Pemerintah dan
setiap orang demi kehormtan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. HAM berlaku secara Universal, artinya berlaku dimana saja dan untuk siapa saja dan tidak dapat diambil oleh siapapun.Hak ini dibutuhkan manusia selain untuk melindungi diri dan martabat kemanusiaannya juga digunakan sebagai landasan moral dalam bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia.

2. Agama Islam di Eropa

Islam di Eropa sering menganalogikan Eropa Barat sebagai Kristen atau Yahudi-Kristen, sedangkan Islam dipandang sebagai agama Oriental asing. Narasi ini
tidak hanya meniadakan fakta bahwa ketiga agama monoteistik terbesar yang
dibentuk di Timur Tengah, tetapi juga termasuk pengaruh bersejarah ilmuwan dan cendekiawan Islam pada pengembangan intelektual Eropa dan sejarah panjang Islam sebagai bagian dari Eropa sejarah. Sehingga dalam pembahasan ini akan mengulas tentang catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Islam telah lama berada di Eropa
dan memiliki pengaruh dalam perkembangan peradaban Eropa dengan kata lain bahwa Islam juga merupakan bagian dari sejarah Eropa.

Perjumpaan pertama Eropa dengan Islam telah terjadi lebih awal sebelum
wilayah dunia Islam hari ini bertemu dengan Islam, dimulai pada saat jendral dari dinasti Umayyah Tāriq Ibn Ziyād melintasi selat Gibraltar dengan pasukannya dan menaklukkan Kerajaan Visigoths pada tahun 711 dan mulai membangun peradaban Islam pertama di Eropa sejak 80 tahun wafatnya Nabi Muhammad.Kehadiran Islam di Spanyol berlangsung selama lebih dari 780 tahun. Sisilia dan bagian selatan Italia juga berada di bawah kekuasaan Islam dari abad ke-9 hingga abad ke-11. Selain itu
terdapat juga minoritas Muslim di bagian Timur dan Tenggara Eropa dimana Islam
datang dengan masyarakat penutur bahasa Turki seperti suku Tartar di Rusia dan beberapa suku-suku Turki di wilayah Kesultanan Ottoman.
Serta diikuti pula dengan fenomena migrasi Muslim pada periode kolonialisasi, pekerja, reunifikasi keluarga dan beragam bentuknya lainnya yang menjadi warna dalam fenomena kehadiran Muslim di Eropa.

Keberadaan Muslim pada awal sejarah di Eropa tercatat pada saat berdirinya
wilayah pemerintahan dinasti Umayyah di Spanyol yang juga menjadi peradaban
Islam peratama di Eropa. Peradaban Islam yang pertama dan terkenal yang yang pernah berdiri kokoh diatas tanah benua Eropa yaitu pemerintahan Islam Al-Andalus.

Al-Andalus merupakan nama dalam bahasa Arab yang diberikan kepada bangsa dan wilayah teritorial yang biasanya merujuk pada bangsa Moor di Iberia. Nama tersebut mendiskripsikan bagian dari semenanjung Iberia dan Septimania yang dibawah naungan pemerintahan masyarakat Islam, yang ada pada periode antara tahun 711 sampai 1492.

Al-Andalus sering disebut juga dengan Andalusia, namun penggunaan istilah itu ambigu karena nama Andalusia merujuk pada nama salah satu daerah administrasi negara modern Spanyol. Pada abad ke sebelas masehi, Al-Andalus juga mencakup bagian Afrika utara dan membentuk entitas budaya tunggal. Dan
pemerintahan Al-Andalus telah menjadi awal dari masa kegemilangan negara Muslim Eropa.

Setelah penaklukan Muslim atas Spanyol, Al-Andalus dibagi menjadi lima daerah administrasi yang meliputi beberapa wilayah antara lain Andalusia, Galicia dan Portugal, Castile dan Léon, Aragon dan Catalonia, and Septimania.
Dalam domain politik dan bidang-bidang lainnya, Al-Andalus merupakan provinsi dari Kekhalifahan Umayyah, diprakarsai oleh Khalifah Al-Walid I(711–750), Emirat Cordoba (750–929), Khalifah Cordoba(929–1031), dan Kerajaan Khalifah taifa Cordoba. Peraturan dibawah pemerintahan dan kerajaan ini, dilihat sebagai perkembangan dalam pertukaran budaya (cultural exchange) dan koeksistensi damai antara Muslim, Kristen, dan Yahudi atau yang dikenal dengan conviviencia.

Dibawah Kekhalifahan Cordoba, al-Andalus telah menjadi pusat pembelajaran dan kota Cordoba menjadi salah satu pusat budaya dan ekonomi terkemuka baik di kawasan Mediterania maupun di dunia islam.

Pada abad selanjutnya, Al-Andalus berubah menjadi provinsi dari dinasti Almoravid dan Almohad, yang selanjutnya dibagi-bagi menjadi sejumlah daerah bagian minor, salah satu yang banyak diketahui yaitu Emirat Granada. Dengan
dukungan dari penduduk lokal semenanjung Iberia, Almoravid diberhentikan oleh pangeran Muslim taifa, setelah membantu penyerangan Kristen diwilayah yang dipimpin oleh Alfonso VI. Sehingga pemerintahan dibawah Almoravid dan Almohad
dipandang sebagai kemunduran dalam pertukaran sosial dan budaya, serta
meningkatnya penyiksaan agama minoritas dengan kembalinya banyak Islam dengan bentuk yang lebih fundamentalis.

Dalam banyak sejarahnya, eksistensi Al-Andalus ada dalam konflik dengan
kerajaan Kristen dari Utara, dimana sejak awal dipaksa untuk tunduk pada kerajaan tersebut sampai tetangga Muslimnya mundur ke Selatan. Padatahun 1085, Alfonso VI of Leon dan Castile menangkap Toledo dan secara bertahap mulai mereka mundur  pada 1236. Dengan jatuhnya Cordoba, menyisakan Emirat Granada sebagai satu-satunya wilayah pemerintahan Muslim yang berada di wilayah yang pada hari ini
dikenal dengan Spanyol. Dimana penaklukan kembali (Reconquista) bangsa Portugis memuncak pada tahun 1249 dengan menaklukkan Algrave oleh Afonso III. Dan pada 1238, secara resmi Emirat Granada menjadi negara jajahan dari Kerajaan Castile, yang selanjutnya dikuasai oleh Raja Ferdinand III. Pada 2 januari 1492, Emir Muhammad XII menyerahkan Emirat Granada kepada Ratu Castile Isabella I dan suaminya Raja Aragon Ferdinand II dibawah naungan “Monarki Katolik”.

Setelah runtuhnya Granada, setengah juta Muslim yang tersisa harus pindah
ke agama Katolik, yang dikenala dengan Moriscos. Yahudi yang menjadi Katolik
dinamai Marranos. Perpindahan agama ini menjadi objek pengawasan yang ketat. Mereka selalu dicurigai untuk melaksanakan keyakinan mereka secara rahasia. Walaupun kasus diatas terjadi, namun upaya tersebut gagal untuk menghapuskan tanda-tanda kehadiran Muslim di Spanyol. Banyak warisan Muslim yang masih tersisa yang sebagian besar masih dapat dilihat, seperti dalam hal arsitektur, ilmu pengetahuan, filsafat, kosa kata. Sehingga Penyerahaan diri peradaban Muslim kepada Kerajaan itu menjadi akhir Al-Andalus sebagai entitas politik, akan tetapi kontribusi sosial dan budaya dibawah pemerintahan Muslim masih tetap bertahan di
Wilayah tersebut.

Seperti halnya Al-Andalusia, Sisilia merupakan fase selanjutnya dari peradaban Islam di Eropa yang berdiri pada tahun 831 sampai 1072 masehi.8 Sisilia sebelumnya merupakan daerah kekuasan dari Kekaisaran Byzantium itu jatuh setelah Penaklukan Muslim di Sisilia yang berlangsung dari tahun 827, mencapai puncaknya dengan jatuhnya ibukotanya yaitu Syracuse pada 878, tetapi selesai pada 902 dengan diserbunya Taormina.

Pemerintahan Arab di Sisilia membuka jalan bagi integrasi ke dalam Darul al-Islam (Negara Islam). Masuknya pemukim Muslim dari Afrika utara
tidak membatalkan kehadiran Kristen dan lainnya penduduk Yunani, yang berubah
menjadi masyarakat subjek. Pulau ini menjadi pelopor kerajaan Fatimiyah, diatur dari sekitar 950 oleh amir milik keluarga Kalbit, yang mengubah Palermo menjadi ibukota yang berkembang.

Para pasukan ekspedisi muslim tersebut telah menunjukkan seluruh karakter Islam, iman, dan peradaban. Karena dalam pemerintahannya di Sisilia diwarnai dengan kemajemukan masyarakat mulai dari Arab, Barbar, Spanyol, dan Sudan, dimana keragaman etnis dan agama tetap dijaga.

Memasuki abad ke-11 menjadi fase dimana peradaban Islam di Sisilia
memasuki masa keruntuhannya, dengan disebabkan oleh peperangan terbuka antara Amir Kalbit dari Palermo dengan Zirid dari Tunisia. Konflik internal Muslim Sisilia tersebut ternyata dimanfaatkan oleh kekuatan Kristen sebagai kebijakan prioritas untuk merebut kembali Pulau Sisilia. Yang selanjutnya datang bangsa Normandia dibawah kekuasaan Roger I yang berhasil menaklukan Muslim Arab di Sisilia dan mengambil alih kekuasaan. Walaupun, kekuasan Muslim telah runtuh namun masyarkat Muslim tetap dijaga. Dengan bertahannya Muslim berserta dengan kebudayaannya, sehingga pengaruh Islam dalam hal keilmuan dan pembelajaran masih berpengaruh bukan hanya itu tetapi juga tetap mengembangkan budaya Kristen-Islam.

Dari segi kultural, Sisilia dimasa pemerintahan Muslim adalah tempat
kelahiran budaya hybrid yang unik, hasil dari pencampuran Barbar, Arab dan Normandia, Muslim dan Kristen. Berbagai kekhasan lokal dari bahasa Arab dikembangkan di sana, dimana bahasa Maltese modern berasal, ahli bahasa
menyebutnya sebagai Siculo-Arab. Selain itu, Bangsa Normandia yang memerintah dipulau tersebut sangat menghormati subyek Muslim mereka, termasuk dalam hal administrasidan bahkan mengadopsi banyak kebiasaan dan praktik mereka.

Ketika musafir Andalusia Ibn Jubayr berhenti di Palermo tahun 1184 ia dikejutkan oleh status kenyaman akan status Muslim di istana, dimana mereka memiliki sebuah masjid di dalam istana raja Kristen.

Di bagian timur Eropa, Islam hadir melalui kemapanan kekuasaan Ottoman
yang dimulai sejak pertengahan abad ke-14. Sebagai pengganti kekaisaran
Byzantium, Ottoman tetap mempertahankan kekaisaran yang multikultural dengan dominasinya di wilayah Balkan, mulai melakukan Islamisasi pada sebagian besar jumlah penduduk, dan dipandang mengancam posisi Kristen di Mediterania timur dan
Eropa kontinental. Pada waktunya sama, kekaisaran Ottoman juga menampung
banyak pengaruh Kristen, yang secara progresif terlihat dimana mereka mengizinkan non-Muslim untuk mengambil alih administrasi finansial dan ekonomi negara.

Dengan pengaruhnya diwilayah Eropa timur dan tenggara, Ottoman telah
mewarisi peninggalan pengaruhnya berupa bagian minoritas Muslim pribumi.

Tercatat setelah penaklukan kerajaan Kazan dan Astrakhan di abad ke-16,
penghapusan kerajaan Qasim pada abad ke-17, serta penaklukan Crimea di abad ke-18. Islam melanjutkan pengaruhnya dan menjadi agama kedua terbesar di Russia, yang pada saat itu dapat ditolerir oleh Kekaisaran Rusia. Dengan penaklukan Kaukus Utara di abad ke-19, mereka menambah sejumlah masyarakat Muslim di Chechnya, Circassian, Dargin, dan Avars. Di bagian tenggara Eropa terdapat mayoritas orang-orang Albania dan Bosnia yang masuk ke agama Islam di bawah pemerintahan Ottoman.

Ditambah lagi dengan kelompok-kelompok penutur bahasa Slavik seperti
Pomak dan beberapa orang Hungaria yang menjadi Muslim. Selain itu terdapat juga masyarakat Muslim yang berada di Kosovo, Macedonia, dan sebagian kecil Muslim Roma (Gipsy). Mereka telah menjadi penduduk Muslim pribumi dengan bentuk yang beragam dan sangat heterogen. Mereka tidak hanya berbeda bahasa tetapi juga mengikuti tradisi keagamaan yang berbeda pula, walaupun mayoritas dari mereka adalah Muslim Sunni.

Posting Komentar

0 Komentar