Model Hukum Penalaran : Positivisme Logis yang Kemudian mengarah pada Empirisme Logis

Kahutify.com

Model Hukum Penalaran :
Positivisme Logis yang Kemudian mengarah pada Empirisme Logis

Demikian pula hanya dengan bahasa teori yang juga memiliki 4 unsur :

a. Konsep teoritis, yaitu konsep yang abstrak atau umum dan tidak berkaitan langsung dengan kenyataan empiris;

b. Hitungan (calculus), yaitu simbol-simbol abstrak yang tidak mempunyai arti empiris dan dengannya konsep teori satu dengan lainnya dapat di terangkan;

c. Aturan persesuaian (rules of correspondence) yang mengaitkan simbol hitungan dengan konsep-konsep dalam bahasa pengamatan; melalui aturan ini konsep teori menerima masukan dari kenyataan empiris; dan

d. Logika, tata bahasa dan ilmu pasti yang dengannya konsep teori dan hitungan simbol dapat dikaitkan satu dengan yang lain dan mengatur pemaikaiannya.

Apabila Positivisme Logis lebih mendudukkan subjek diatas segalanya dengan kepastian yang tinggi, maka Empirisme Logis justru menginginkan tercapainya komunikasi intersubjektif, sekalipun harus mengorbankan kepastian.

Kelebihan Positivisme Logis adalah bahwa pengetahuan tidak mungkin lebih pasti daripada itu, sedangkan kekurangannya adalah bahwa sepenuhnya pengamatan itu bersifat subjektif. Kelebihan Empirisme Logis adalah bahwa ia memakai "intersubjektivitas" sebagai kriteria pengetahuan ilmiah. Kekurangannya adalah bahwa pengetahuan tidak pernah dapat memberi kepastian.

Tahap-Tahap Pengembangan Ilmu menurut Empiris Logis :

Tahap 1: Perumusan pernyataan pengaman. 

Sumber pengetahuan adalah fakta. Dengan demikian, hakikat pengetahuan bersumber dari materi karena fakta tersebut harus dirumuskan dalam bentuk "pernyataan pengamatan". Pernyataan pengamatan ini termasuk bahasa pengamatan yang tidak tergantung teori.

Tahap 2: Perumusan generalisasi empiris.

Pernyataan pengamatan merupakan landasan untuk membentuk "generalisasi empiris" (Ge¹ dan Ge²). Generalisasi empiris adalah pernyataan yang menunjuk ke suatu keteraturan yang terdapat dalam fakta-fakta yang sempat diamati.

Tahap 3: Perumusan hukum empiris melalui pembuktian generalisasi empiris.

Berdasarkan generalisasi yang sempat dirumuskan dapat dilakukan peramalan fakta-fakta baru. Misalnya bentuk bulan yang akan muncul pada hari tertentu pada masa mendatang. Apabila ramalan-ramalan ini ternyata benar, maka generalisasi empiris yang telah dirumuskan mendapat konfirmasi baru. Jika tingkat konfirmasi cukup tinggi, maka generalisasi empiris dapat dinyatakan menjadi "hukum empiris" (H¹ dan H²).

Tahap 4: Pengembangan Teori.

"Teori" tidak berdasarkan pada pernyataan pengamatan secara langsung. Teori hanya mengenai hukum empiris dan selalu bersifat abstrak. Teori (T¹) dikembangkan mulai dari hukum-hukum empiris yang telah ditemukan melalui penelitian-penelitian dibidang ilmu tertentu. Tujuan teori adalah menjelaskan keterkaitan antara  keteraturan yang dinyatakan dalam hukum-hukum empiris sehingga dapat disimpulkan secara logis darinya. Keteraturan-keteraturan itu dianggap benar-benar disebabkan oleh proses-proses tersembunyi yang berlangsung pada tingkat yang lebih mendalam. Itulah sebabnya, teori selalu meliputi "hitungan" (calculus)  tertentu.

Tahap 5: Perumusan Hipotesis.

Teori memiliki ciri khas yang memungkinkan ditunjuk keteraturan-keteraturan baru yang belum sempat diamati sebelumnya. Pernyataan tentang keteraturan yang belum diamati itu dinamakan hipotesis (H³).

Tahap 6: Pembuktian Hipotesis.

Hipotesis berguna bagi pengembangan ilmu hanya jika memungkinkan dilakukan pengamatan terhadap fakta-fakta baru. Hipotesis menjelaskan hasil yang ditemukan melalui pengamatan terhadap kenyataan itu.

Tahap 7: Penilaian hasil penelitian.

Hipotesis itu berperan sebagai pengujian "independen" terhadap teori. Jika keteraturan yang dinyatakan dalam hipotesis dapat ditemukan, maka diperoleh sebuah konfirmasu untuknya. Apabila tingkat konfirmasi cukup tinggi, hipotesis itu diterima sebagai hukum empiris yang baru. Dengan ditemukannya hukum empiris yang baru, teori pun mendapat konfirmasi baru dan menjadi "teori empiris" (T¹).

Baca juga Model Hukum Penalaran : Pengantar

Referensi :

Buku Penalaran Hukum dan Hukum Penalaran Karya Shidarta

Posting Komentar

0 Komentar