Model Hukum Penalaran : Pengantar

Kahutify.com

Model-Model Hukum Penalaran

Modelitas yang terdapat pada aspek ontologis, epistimologis, dan aksiologis memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap ilmu-ilmu pada umumnya. Artikel ini akan membahas mengenai beberapa macam model penalaran yang dikenal dalam wacana epistimologi. Model penalaran yang akan dibahas dibagi menjadi 4 model yang disebut sebagai teori besar (grand theories) dalam epistimologi. Berikut pembahasannya :

1. Positivisme Logis yang Kemudian mengarah pada Empirisme Logis

Positivisme dirintis oleh Auguste Comte (1798-1857). Pemikiran Auguste Comte ini diklaim sebagai "jembatan" antara Rasionalisme Descartes dan Empirisme Bacon. Menurut Comte, masyarakat tahap positif adalah masyarakat yang paling ideal. Sayangnya, apa yang digambarkan oleh Comte sebagai "ideal" itu ternyata terjebak pada ukuran-ukuran yang sangat teknis sosiologik. Kritikan dari Lewis Musford secara tepat menggambarkan kelemahan itu.

Wacana positivisme sempat "tenggelam" akibat hiruk pikuk perang dunia I (1914-1918), dan berjaya kembali setelah perang usai dengan menampilkan corak baru, yang disebut Neopositivisme atau Positivisme Logis.

Pemikiran ini dibawa oleh suatu aliran filsafat yang muncul pada tahun 1942 di Austria, yang dikenal dengan nama Lingkaran Wina. Tokoh utamanya adalah Ernst Mach (1838-1916), Moritz Schlick (1882-1936), dan Rudolf Carnap (1891-1970). Lingkaran Wina terkenal sebagai gerakan yang berupaya keras melahirkan filsafat yang ilmiah dengan menghapus semua proposisi yang kabur, terutama proposisi-proposisi metafisis. Teori yang dibawa oleh Positivisme Logis berpegang pada 4 asas, yakni:

(1) Empirisme : mengandalkan pengalaman langsung
(2) Positivisme : Pengetahuan positif pasti berguna untuk membangun masyarakat
(3) Logika : analisisnya harus logis, yang sangat dimungkinkan untuk diperluas ke arah analisis bahasa
(4) kritik ilmu : Positivisme dan Empirisme logis mengemban tugas untuk mencari ilmu yang berkesatuan

Pada awal perang dunia II, positivisme logis digantikan dengan aliran Empirisme Logis yang mempersempit teori pengetahuan dari positivisme logis. Menurut Empirisme Logis, asas yang relavan cukup dua saja, yaitu Empirismr dan Logika. Pergantian ini terjadi setelah Moritz Schlick terbunuh tahun 1936, yang berakibat pada nenurunnya eksistensi Lingkaran Wina. Para pendukungnya terpaksa melarikan diri ke perguruan tinggi di Amerika demi menghindari Naziisme dan perang dunia II. Desakan inilah yang kemudian membuat eksponen Lingkaran Wina ini mengembangkan model penalaran baru yang disebut dengan Empirisme Logis.

Fokus kepada penelaahan bahasa menjadi kian penting setelah munculnya penalaran baru ini. Bahasa dibedakan menjadi dua, yaitu bahasa pengamatan dan bahasa teori. Mengenai persoalan bahasa ini, Carnap membentakan unsur-unsur bahasa sebagai berikut:

(1) Seperangkat simbol-simbol.
Simbol-simbol bahasa itu ada  yang berupa term-term nonlogis (simbol yang mempunyai arti empiris, spt kata biru, dingin, lebih panas, proton, atau medan elektromagnetik) dan term-term logis yang tidak bermakna secara empiris (antara lain lambang-lambang matematika spt, 100, 90 derajat,  =, +, atau E = mc²). Masing-masing kelompok term tersebut dinamakan dengan sebutan bahasa pengamatan dan bahasa teori.
(2) Aturan-aturan efektif yang menetapkan apakah sekuen dari simbol-simbol tersebut telah dirumuskan denga baik. Aturan-aturan tersebut antara lain harus mengikuti sintaksis.

Bahasa pengamatan diatas diformulasikan kedalam unsur-unsur :

a. Konsep pengamatan, yaitu konsep yang berhubungan langsung dengan kenyataan;
b. Pernyataan pengamatan (observational statements), yaitu pernyataaan mengenai fakta-fakta yang dapat langsung diamati dan yang merupakan dasar pengamatan;
c. Generalisasi empiris, hukum empiris, dan hipotesis, yaitu pernyataan tentang keteraturan-keteraturan yang sempit diamati; dan
d. Logika dan tata bahasa yang mengatur susunan bahasa pengamatan.

Baca juga bagian selanjutnya di Model Hukum Penalaran Bagian 2

Referensi :
Buku Hukum Penalaran dan Penalaran Hukum karya Shidarta

Posting Komentar

0 Komentar